Senja
SENJA
Kicauan burung yang memenuhi gendang telinga ditambah serbuan angin yang menyerbak membuat suasana sore hari ini menjadi lebih segar. Entah kenapa aku menyukainya, bahkan aku selalu menantikannya. Ditambah lagi warnanya yang kejinggan membuat keadaan menjadi lebih indah.
SENJA. Itulah
yang kusukai. Sore hari yang penuh dengan kejinggaan yang indah. Didalam kamar
yang terlihat dari jendela sempitpun namun tetap terlihat indah. Bahkan hanya
bayangannya saja yang terlihat namun tetap indah sampai hanya kata kagum yang
selalu keluar dari mulut manisku ini.
SENJA…..
Sesuatu yang indah, namun tak bisa diraba. Ia
hanya bisa dipandang dan dirasakan keindahannya.
Aku menopang
wajahku di antara kedua tanganku yang terlipat di atas jendela kamarku.
Sepertinya senja
saat ini, sama dengan senja senja yang sebelumnya. Tetap berwarna jingga
kemerahan, dan yang kurasakan adalah betapa indahnya karunia tuhan yang satu
ini.
Seketika aku
memejamkan mataku. Berusaha menghilangkan semua masalah yang kurasakan hari
ini. Tidak lama kemudian, aku membuka mataku.
Dahiku
menggerucut saat melihat itu. “apa itu?” Aku bertanya tanya pada diriku
sendiri. Bayangan seorang laki-laki yang melekat di langit senja, benar benar
membuat mataku melebar dan membuatku tak bisa berbuat apa apa.
“Jangan takut
padaku!” perkataannya sungguh membuatku tak percaya.
“Kau siapa?”
tanyaku penasaran dan sedikit ketakutan.
“Teman senjamu.” Ia menjawab dengan senja yang
hampir berganti menjadi malam.
“Teman
senja??"
"Kau tidak
perlu heran dengan kedatanganku…” setelah mengucapkan itu, sosoknya menghilang
bersama senja. Dan bulan pun mulai datang untuk menerangi malam.
Dengan kejadian itu, aku tak
bisa tenang sepanjang malam. Aku merasa senja tadi itu tidak seperti senja
senja yang sebelumnya, sangatlah berbeda
bagiku. Aku berusaha untuk melupakan kejadian senja tadi. Lantas aku langsung
melanjutkan aktivitasku selanjutnya.
Beberapa waktu terakhir ini,
aku selalu merindukan senja. Entah mengapa, kadang aku juga membencinya. Senja
itu selalu mengingatkan kepadaku tentang gambaran sosok laki-laki yang menjadi
teman senjaku. Tapi laki-laki itu tak bisa kusentuh, hanya bisa ku pandang.
Entah kuapakan lagi. Hanya suaranya yang selalu singgah di telingaku yang kian
lebar. Aku kadang juga tertawa sendiri, entah gila atau sekedar terlena oleh
sandiwara yang selalu kumainkan.
“Siapa sih
kamu?”
“Kamu tak perlu tau siapa diriku, seperti aku
tak pernah mau tahu siapa kamu!” seperti biasa, selesai bicara dia selalu
menyelipkan seikat bunga di celah celah jantungku sampai tembus ke paru paru.
Bunga yang tak berwarna dan tak pernah kering.
“Apa maumu?”
hardikku.
“Mauku seperti
maumu juga. Tak usah marah! Nikmati saja permainan ini. Aku sengaja datang
untuk menemanimu. Maaf, tapi kamu tak bisa merabaku, kamu juga tak bisa
mengkhayalkanku, seperti saat kamu membuat cerita cerita.”
“Apakah kamu
sebangsa iblis atau sejenisnya?”
“Jangan kasar!
belum saatnya kamu tau siapa aku. Mungkin aku lebih manusia daripada kamu!!!”
Kemudian,
suaranya lenyap ditelan gerimis. Malam mulai merangkak dan cahaya jingga kemerahan
semakin sirna.
Selama beberapa hari, tak
pernah lagi kudengar suaranya. Tak ada lagi yang menemaniku atau menghabiskan
sore di jendela kamarku sambil menikmati secangkir teh. Baru kusadari senja
terasa asing tanpa kehadirannya.
Aku pernah mencoba mencarinya di
sekitar taman atau danau. Siapa tahu laki-laki itu ada di sana, sedang bermain
perosotan atau duduk manis di pinggir danau. Tapi dia memang benar benar tidak
ada. Dia bisa muncul hanya saat senja dan menghilang saat senja itu sirna
Beberapa akhir-akhir ini aku sama sekali tidak
berjumpa lagi dengannya. Aneh rasanya. Aku ingin melupakan kejadian itu tapi
suaranya terus berputar diotakku. Kadang aku seperti orang gila yang senyum dan
juga nangis kala aku sendiri.
Disini lah aku.
Di Atas atap gedung menanti Senja datang. Banyak orang disini semua terlihat
sangat bahagia bersama teman-temannya dan juga kekasihnya. Aku hanya tersenyum
melihat itu. Ada sedikit rasa dibenak ku ingin rasanya seperti itu tapi hidupku
hanya sebatas penunggu senja yang sendiri karena temanku tak menyukai senja
katanya senja itu indah tapi hanya sesaat. Tapi entah kenapa dari dulu aku
sangat menyukai senja. Senja yang mengajariku banyak hal. Aku memejamkan mataku
dan mengayunkan kedua kakiku yang menggantung. Nikmat rasanya udara nan sejuk
dan juga suasana yang damai. Tapi tiba-tiba....
"Hay"Ucapnya
Aku memandangnya
dan tersenyum. Dan kembali menatap senja
"Indah ya
senja. Kamu suka senja?" Tanyanya
"Iya aku
suka senja. Indah dan damai" Jawabku tanpa mengalihkan pandangan ku
"Oh ya
kenalin gue Senja" Ucapnya sembari menjulurkan tangannya
"Senja...."
"Iya kenapa
aneh ya. Itu orang tuaku yang memberi nama katanya mereka awal bertemu dengan
melihat senja dan juga menikah dengan ditemani senja" Ucapnya sambil
menggerakkan tangannya
"Eh... Aku
Bulan" Ucapku sambil menerima uluran tangannya
"Oh...
Namamu Bulan. Tapi mengapa kamu menyukai senja? Kenapa tidak bulan?"
Tanyanya
Aku tersenyum.
Sudah banyak sekali orang yang mengatakan itu bahkan teman-temanku dan juga orang-orang
disekitarku sering menanyakan hal itu.
" Entah
lah, tapi aku lebih tertarik senja meski senja datang hanya sore tapi aku suka
senja. Dimana suasananya menurutku sangat membuat damai seakan semua beban
hidup terangkat" ucapku sambil melihat senja yang sudah mulai menghilang
Pria itu. Dia
hanya tersenyum mendengar ucapan ku dan ikut menatap senja disampingku.
Hari mulai gelap. Senja sudah
tidak menampakkan keindahannya lagi karena sudah tergantikan oleh malam. Aku
bangkit dan menatap Senja.
"Em...Senja.
Hari sudah gelap, Aku pamit mau pulang soalnya takut nanti dicari
bunda"Pamit ku
"Oh iya,
Kamu pulang dengan apa?" Tanyanya
"Kurasa aku
akan mencari kendaraan umum. Tadi aku tidak membawa kendaraan karena takut
macet dan juga tidak dapat menikmati senja" Jawabku dengan tersenyum
"Em...Mau
ku antar. Dari pada nanti nunggu kendaraan umum lama, hari sudah gelap bukannya
kamu buru-buru takut bundamu khawatir?" Ucapnya
"Tidak apa
emang? Takut ngrepotin" Balasku
"Tentu
tidak apa-apa, justru aku senang bisa membantu"
"Baiklah"
Aku dan Senja
berjalan turun menuju parkiran.
"Tak apa
kan jika naik motor?" Tanyanya sembari memberiku helm
"Tak apa
justru dengan naik motor kita bisa lihat bulankan!" Ucapku sembari
menerima helmnya
"Em...kenapa
kamu membawa helm dua, apa kamu tadi bersama dengan temenmu?" Tanyaku
heran
"Iya
tadinya aku bersama temanku,tapi dia pulang dulu katanya sih ada urusan"
Jawabnya santai sambil menyalakan motornya
Aku hanya
menganggukkan kepalaku. Sunyi itulah yang pas untuk mengatakan keadaanku saat
ini. Ditambah aku gugup dan bingung apa yang harus lakukan. Sampai suara
deheman itu menyadarkanku
"Hm..Dimana
rumahmu?" Tanyanya teriak karena dijalan banyak sekali kendaraan
"Lurus saja
nanti ada belokan belok ke kiri dan masuk diperumahan indah" Jawabku
Senja Kembali
fokus ke depan. Dia tidak mau terjadi apa-apa. Lantas dia mempercepat motornya
karena dia takut nanti bisa kemaleman sampainya.
"Sampai.
Ini rumahmu?" Tanyanya
"Iya ini
rumahku" Jawabku
" Yaudah
Aku pamit ya soalnya udah malem juga" Ucapnya
"Tidak mau
mam..." Ucapku terpotong karena disana ada bunda dan ayahku memanggilku
"Bulan.....'
Ucapnya
"Iya
Bun" Jawabku
"
Lhoh....siapa anak ini, temenmu? Mari nak masuk, kita makan dulu. Tadi bunda
bikin makanan banyak ayo" Ucapnya kepada Senja
"Emm..
makasih Tante tapi kay......" Ucapan Senja terpotong kala Ayah bicara
"Sudah ayo
mampir dulu kita makan bareng-bareng!" Ucapnya
Senja terlihat
sangat bingung sekaligus gugup. Aku tau pasti dia bingung mau iya atau
tidak,secara kita baru kenal beberapa jam yang lalu.
" Udah ayo
mampir dulu" ucapku kepada Senja
"Tak apa
emang" Ucapnya
"Iya, udah
ayo" ucapku sambil menarik tangannya
Aku dan Senja berjalan masuk ke rumah. Dan
langsung menuju ke ruang makan. Dimana memang benar kata bunda, hari ini banyak
sekali makanan.
"Duduk nak,
temennya Bulan ya? Tanya bunda pada Senja
"Iya
tante" jawabnya
"Makasih ya
sudah mengantarkan Bulan. Memang anak itu, Padahal lihat Senja dirumah saja
bisa kenapa harus ke gedung itu" Ucap Bunda sambil geleng geleng
"Bunda...
Bulan nggak suka aja. Bunda selalu bilang Jangan lihatin senja aja cari pacar
sana . Pacar,Pacar,Pacar bunda selalu menanyakan hal itu pada Bulan"
Ucapku dengan cemberut
Senja. Dia hanya
tersenyum melihat keluarga kecil ini. Andaikan Mama dan Papanya bisa berkumpul
seperti ini. Namun hal itu entahlah dapat terwujud atau tidak.
"Kamu
ini... Oh ya namanya siapa nak?"Tanya bunda
"Senja
Tante" jawab Senja
"Haaaa....Senja"
Ucap bunda dan ayah bersamaan
Lalu kita semua
tertawa. Senja pun sudah menduka dengan hal itu. Tapi Senja tak apa dia Juga
ikut tertawa
"Oh atau
jangan jangan alasan kamu menyukai senja itu karena Senja ini?" Ejek ayah
"Ayah..
Orang Bulan kenal Senja itu baru tadi. Waktu kita digedung untuk lihat senja
yah" Jawabku dengan malas
"Hahahaha
ada ada aja kamu ini mas. Tapi masuk akal juga" Imbuh Bunda sambil tertawa
Aku dan Senja
hanya diam.
Makan pun sudah
selesai. Kini Senja sudah pulang. Karena
dia ada urusan katanya. Disini aku berada di balkon kamar. Duduk memejamkan
mata sembari merasakan angin
menerpa wajahku. Entah kenapa pikiranku
melayang ke lelaki senja itu dimana dia sekarang. Apa dia akan kembali
memunculkan wajanhnya? Pikirku. Hari mulai gelap angin mulai berubah menjadi
angin dingin. Aku bangkit dan berjalan menuju kamarku bersiap untuk tidur.
Komentar
Posting Komentar